Postingan

Paragraf awal yang terulang.

Hadir kembali setelah bungkam oleh kemelut hiruk pikuk dunia. 1 tahun ini aku kembali mengangkat tema besar yang lama aku tinggalkan, ah bukan, namun hanya aku lupakan sementara. Sebuah tema yang kebanyakan memang manis di awal namun selalu berujung pada pedih. iya, kita semua pasti mengenal ini, terlebih pada zaman yang tak ramah pada usia, sehingga baik buruk tak tersaring dengan baik, iya semua orang pasti pernah merasakan tema ini, ia sering disebut cinta. Kisah yang aku tinggal pada fase yang sering orang bilang sebagai masa lalu. Bukan aku tak ingin pernah lagi membahas tema ini, namun aku pikir belum waktunya untuk kembali membahas tema yang aku pribadi menganggapnya rumit, bahkan salah-salah berujung pada sebuah kesalahan yang akan mendarah daging. Aku sadar, tema ini jika tak terselesaikan akan menghasilkan jiwa yang terkatung-katung pada waktu, di ayun-ayun oleh angin sepoi yang di hembuskan oleh harapan akan masa depan. Tema yang memaksa ku untuk mengabdi pada seseorang...

Intropeksi diri !

Gambar
Kecemburuan yang belum bisa aku selesaikan. Bukan cemburu dalam hal percintaan namun cemburu dalam ketaqwaan dan kesuksesan pekerjaan. Aku iri, kenapa rasanya aku tertinggal begitu jauh dari saingan setingkatku. Ia begitu di percaya, padahal hari-harinya juga di habiskan bersamaku. Hal ini yang kadang membuatku down , tak mengerti. Kenapa aku kalah ? kenapa aku tertinggal ? Memang ia lebih berpengalaman dalam bidang perkerjaan ini, namun bagiku pengalaman tidak menjadi penentu keberhasilan seseorang. Tampaknya aku masih kalah dalam kesungguhan mengerjakan sesuatu. Aku masih suka bermain lidah dan melupakan sentuhan jari-jemari . Aku terjebak dalam yang hanya menguntungkan pihak yang ku kritik. Ya, aku memang suka mengkritik, namun aku jarang mengkritik diri ku sendiri. Aku juga sering mengkritiknya. Mungkin hal ini yang mampu membuat ia menjadi terdepan. Kritikan-kritikan yang ku sampaikan benar-benar ia serap dan ia perbaiki. Sedangkan aku tidak pernah intropeksi diri, dan se...

Untuk Apa Saya Hidup Di Dunia ?

Untuk Apa Saya Hidup Di Dunia ? ” Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku..” (QS Adzdzariyat :56) Pertanyaan penting yang kedua adalah untuk apa hidup. Mencari arti hidup adalah sangat penting. Siapapun yang tidak memiliki misi hidup, hidupnya akan terombang-ambing, tidak jelas, dan dipastikan tidak berarti. Hanya mereka yang memiliki misi hiduplah yang akan berarti dalam hidup, berarti buat dirinya , juga buat orang lain. Manusia tanpa misi bagaikan hewan , yang hanya hidup , karenya nyawanya ada. Hidup hewan tidak lebih berputar sekitar lahir, makan, cari makan, seksual, melahirkan anak, buang air …. Manusia yang hidup tanpa misi bagaikan hewan. Inilah yang disindir oleh Allah SWT dalam Al Qur’an, mereka disebut bagaikan hewan , bahkan lebih dari hewan. Ciri mereka : tidak mau berpikir, meskipun sudah diberikan akal (qolbu). Tidak mau menggunakan mata untuk melihat kebenaran. Telinga seakan ditutup tidak mau mendengar kebenaran. ...

Perlu Keyakinan

Dalam melalui panjangnya kisah hidup, pasti kita pernah menemui rintangan-rintangan yang tak bisa kita hindari. Kebanyakan orang selalu berlari menjauh ketika rintangan itu datang, apakah itu baik ? Tentu lari dari rintangan itu sangat lah salah. Dari rintangan itu kita bisa belajar menjadi orang yang lebih bijaksana, dari rintangan itu kita belajar menjadi orang yang lebih dewasa. Tapi lagi-lagi, banyak diantara kita yang pesimis terhadap rintangan yang dihadapinya. Dengan kata-kata " Ah, masalahnya terlalu berat", atau "aku gak yakin bisa menyelesaikan ini". Bagaimana menurut anda tentang orang-orang seperti itu ? Hidup ini perlu keyakinan. Disaat kita yakin kita bis melaluinya, pasti ada perasaan yang terus menyemangati kita, memberikan ide-ide untuk menyelesaikan rintangan-rintangan yang dihadapi. Ingatlah, Allah tidak akan menimpakan musibah kepada hamba-Nya, kecuali hamba-Nya bisa menyelesaikan itu. Sudah jelas, jangan takut untuk menghadapi rintangan h...

Tiada kata Terlambat

Kata ini memang menjadi titik balik dari hidup seseorang. Untuk mendapatkannya membutuhkan perjalanan panjang bagi yang tersesat. Ia selalu datang terlambat, sehingga hal-hal buruk pun sempat terjadi. Menyesal . Menyesal dari masa lalu, hal ini sering terjadi pada setiap insan di bumi ini. Perasaan bimbang yang menjadi gejala pertamanya. Hati yang menjadi tak karuan karena mengingat dosa-dosa dimasa lalu. Dan akhirnya keluarlah kalimat 'Aku Menyesal' Banyak orang begitu terpuruk mengetahui bahwa dirinya terlalu lambat untuk menyesal. Padahal sebenarnya, terlambat untuk menyesal juga punya sesuatu yang berarti. Contohnya saja, kita menjadi tahu hal-hal yang melanggar norma. Hal ini berguna bagi kita untuk membantu memberikan nasehat kepada yang lain, agar ia tidak tersesat melakukan perbuatan melanggar norma. Tak apa kita terlambat menyesal, dari pada tidak sama sekali ? Tapi yang harus kita pegang ialah, penyesalan harus menjadi titik balik perubahan diri, menata hidup ya...

Memberi Awal untuk perjalan

Memberi Awal untuk perjalan. Setiap perjalan pasti mempunyai awal atau tempat memulai dan akhir atau tujuan. Banyak orang yang biasa-biasa saja melakukan perjalan ini, tanpa ada tau dari mana ia memulai dan kapan ia akan berakhir. Hanya sedikit yang menyadari betapa pentingnya kita tau dari mana awal kita dan dimana kita akhir kita. Perjalan yang tanpa awal, hanya akan membodohi diri kita sendiri. Karena sudah jelas, ia akan kebingungan menjawab berbagai pertanyaan selama melakukan perjalanan. Perjalan yang tanpa akhir akan melahirkan kehancuran. Bermula dari tak paham untuk apa melakukan perjalan, hingga akhirnya melewati batas-batas. Perjalanan ini adalah Kehidupan. Andai kita ingin menyisihkan sedikit detik kita untuk memberikan secarik rencana tentang apa yang harus dilakukan dari awal hingga ke akhir tujuan nanti, maka kemungkinan besarnya adalah kehidupan itu ada dalam genggamannya. Tentu kita bisa menjadi pemenang, karena kitalah yang mengatur hidup. Bandingkan, jika ki...